TRANSPARANSI DAN INTEGRITAS BPBD DI KABUPATEN KLATEN DI TAHUN 2019

Gebrakan terus dimulai.transparansi dan integritas.bpbd klaten,tahun 2019 mengajak semua pihak,relawan,dunia usaha,swasta,dll,untuk mengawasi kinerja bpbd.semua dokumen pelaksanaan anggaran,atau dpa,dipajang dan ditempelkan di papan pengumuman kantor.satu rupiahpun wajib dipertanggungjawabkan ke masyarakat.monggo diawasi,diberi masukan dan saran dan bisa lihat di jalan andalas no 3.klaten

Salam tangguh.

RAPAT KOORDINASI PENANGGULANGAN BENCANA SE JAWA TENGAH

Rabu Pagi ini, Rakor PB Se-Jawa Tengah Thn 2019 di Ruang Rapat Gd. B Lt.5 Setda Prov.Jateng, Hadir dlm acara tsb Kepala BNPB Bpk Doni Monardo, gubernur Jawa Tengah, Pak Ganjar Pranowo dan Narasumber dari Kepala BPPTKG, UGM & BPPT.hadir dandim se jateng, dan kapolres serta bpbd Kabupaten, relawan, dan komunitas. Pak Dandim Klaten, pak Eko setyawan, perwakilan dari polres klaten dan PLT BPBD Klaten, pak Dody Hermanu.. Salam tangguh.

GEOLOGI MERAPI

litografi sisi selatan gunung merapi pada tahun 1836, dimuat pada buku tulisan Junghun

Litografi sisi selatan Gunung Merapi pada tahun 1836, dimuat pada buku tulisan Junghuhn.

Nama “Merapi” berasal dari penyingkatan “meru” (= gunung) dan “api”, sehingga nama “merapi” sebenarnya sudah berarti “gunung api”.

Gunung ini adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik yang tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Batulawang yang lebih tua.[2]

Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya.[3] Berthomier, seorang sarjana Prancis, membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap.[4] Tahap pertama adalah Pra-Merapi (sampai 400.000 tahun yang lalu), yaitu Gunung Bibi yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Tahap Merapi Tua terjadi ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 – 8000 tahun lalu). Sisa-sisa tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik. Selanjutnya adalah Merapi Pertengahan (8000 – 2000 tahun lalu), ditandai dengan terbentuknya puncak-puncak tinggi, seperti Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, breksiasi lava, dan awan panas. Aktivitas Merapi telah bersifat letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7 km, lebar 1–2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubar (atau Pasarbubrah) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar, baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra.

Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pembentukan awan panas (nuée ardente) yang dapat meluncur di lereng gunung atau vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.[2]

Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang secara “signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi”. Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma.[5] Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia[6].

Puncak Merapi pada tahun 1930.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik.[7] Ahli geologi Belanda, van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4. Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.[butuh rujukan]

Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas. Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872[8] dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010)[9], meskipun telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen pengungsian. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan “tipe Merapi” karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20–30 km.

Gunung ini dimonitor non-stop oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta, dibantu dengan berbagai instrumen geofisika telemetri di sekitar puncak gunung serta sejumlah pos pengamatan visual dan pencatat kegempaan di Ngepos (Srumbung), Babadan, dan Kaliurang.

Erupsi 2006

Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.

Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik – artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi.

Tanggal 1 JuniHujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten MagelangJawa TengahMuntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini.[10]

Tanggal 8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09.03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari ini tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09.40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman.[11]

Erupsi 2010

Artikel utama: Letusan Gunung Merapi 2010

Seorang siswa SD tengah mengemudikan sepeda ketika erupsi Merapi 2010.

Peningkatan status dari “normal aktif” menjadi “waspada” pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi “siaga” sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi “awas” dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.

Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.[12] dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernapasan.

Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.[13] Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah.

Namun, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai TasikmalayaBandung,[14] dan Bogor.[15]

Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendah setelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November Kali Code di kawasan Kota Yogyakarta dinyatakan berstatus “awas” (red alert).[16][butuh rujukan]

Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, namun status keamanan tetap “Awas”. Pada tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km.[17]

Erupsi 2018

Aktivitas vulkanik kembali ditunjukan gunung ini pada Jumat, 11 Mei 2018, pukul 07.30 WIB. Meski berstatus normal, Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh disertai asap membumbung tinggi[18]. Letusan yang memunculkan asap setinggi hingga 5.500 meter ke udara tersebut diketahui merupakan letusan freatik. Saat terjadi letusan, sebagian pendaki masih berada di areal Pasar Bubrah. Tak ada laporan pendaki yang meninggal dunia maupun luka-luka. Kawasan Pasar Bubrah adalah tempat para pendaki Merapi biasa menginap dan memasang tenda. Hujan abu tipis jatuh di wilayah lereng barat.

Aktifitas Merapi terus meningkat hingga pada tanggal 21 Mei 2018, pukul 23.00 WIB status Merapi dinaikkan dari normal aktif menjadi waspada[19]. Pada Kamis, 24 Mei 2018 Merapi kembali erupsi dengan memuntahkan asap setinggi 6.000 meter. Hujan abu mengguyur wilayah barat gunung yaitu Kabupaten Magelang bahkan sampi ke Kabupaten Kebumen yang berjarak lebih dari 40 kilometer[20].

Gunung Merapi kembali meletus Jumat, 1 Juni 2018 pada pukul 08.20 WIB dengan durasi 2 menit. Menurut BPPTKG, kolom letusan gunung Merapi sekitar 6.000 meter dari puncak, atau sekitar 8.968 meter di atas permukaan laut arah barat laut dan teramati dari Pos Pengamatan Jrakah. Letusan tersebut menyebabkan hujan abu di Pos Pengamatan Gunung Merapi Jrakah dan Selo. Bahkan laporan hujan abu hingga ke Salatiga dan Kabupaten Semarang[21]. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada atas hujan abu dan selalu mengenakan alat pelindung diri (APD), seperti kacamata, jaket, dan masker saat berada di luar rumah.[22]

Vegetasi

Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan Edelweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika. Hutan hujan tropis pegunungan di bagian selatan Merapi merupakan tempat salah satu forma anggrek endemik Vanda tricolor ‘Merapi’ yang telah langka[23].

Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salakunggul nasional, yaitu salak ‘Pondoh’ dan ‘Nglumut’.

Rute pendakian

Gunung Merapi merupakan objek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari SèloKabupaten BoyolaliJawa Tengah, tepatnya di Desa Plalangan, Selo, Boyolali, Desa ini terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu sekitar 4-5 jam hingga ke puncak.

Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari SawanganKabupaten MagelangJawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan KemalangKabupaten KlatenJawa Tengah.

PASANGAN PENGANTIN KLATEN TEBAR IKAN

Klaten : Pasangan pengantin di Kampung Sidorejo Kecamatan Klaten Tengah, melakukan prosesi tebar ratusan ikan di alur Sungai Lunyu, di kampung tersebut, sebagai salah satu syarat untuk bisa menikah.

Pasangan pengantin tersebut yakni Wahudin (27) tahun dan Desi Karmila (25) tahun melangsungkan pernikahan ditandai denganmenebaran ratusan bibit ikan bawal, nila dan ikan lele di alur sungai Kali Lunyu, setelah melangsungkan ijab khobul yang dilaksankan Minggu (19/2/2019).

Sebelumnya, pasangan pengantin diarak dengan cara naik becak dan diantar oleh sejumlah tamu undangan menuju sungai serta langsung menebar bibit ikan yang sudah dipersiapkan.

Ketua RW 011, Kampung Sidorejo, Siswanto kepada wartawan mengatakan, penebaran ikan di Sungai Lunyu sudah yang ketujuh kalinya dilakukan pagi setiap pasangan pengantin di Kampung Sidorejo.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan kesepakatan  para warga, sehingga jika ada pengantin baru, maka mereka diminta menebarkan ikan ke Kali Lunyu.

“Kalau ada yang menikah diusahakan bisa menebar ikan, seperti ikan nila, lele maupun jenis ikan lainnya,” jelasnya.

Dikatakannya, ke depan diharapkan penataan Kali Lunyu ini akan lebih baik lagi seiring dengan keinginan dari Komuitas SungaiLunyu, sehingga sungai tersebut nantinya bisa menjadi tempat wisata.

Sementara itu, pengantin  pria, Wahudin mengatakan, dengan penebaran ikan di Kali Lunyu pihaknya sangat mendukung agarkelestarian sungai lunyu bisa tetap terjaga, bersih dan tidak tercemar dari sampah.Di sisi lain, Ketua Komunitas Peduli Sungai Lunyu, Doni Wahyono menyatakan, pihaknya berusaha untuk menciptakan tradisi tebar ikan di Sungai Lunyu agar ke depan ekositem bisa lebih terjaga

sumber: wikpedia

MERAPI UPDATE

MAGMA-VAR ::::
:: Volcanic Activity Report ::

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNGAPI

PERIODE PENGAMATAN
07-02-2019 00:00-24:00 WIB

GUNUNGAPI
Merapi (2968 mdpl),
Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten,
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah

METEOROLOGI
Cuaca berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah utara, timur laut, dan tenggara. Suhu udara 17-31.8 °C, kelembaban udara 38-88 %, dan tekanan udara 837.3-946.2 mmHg. Volume curah hujan 67 mm per hari.

VISUAL
● Gunung kabut 0-II hingga kabut 0-III. Asap kawah nihil.
● Teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 2000 m mengarah ke tenggara.
● Guguran lava teramati dari CCTV sebanyak 14x jarak luncur 150 – 950 m dengan durasi 17.84- 96.64 masuk ke kali Gendol.

KEGEMPAAN
■ Awan Panas Guguran
(Jumlah : 1, Amplitudo : 70 mm, Durasi : 215 detik)
■ Guguran
(Jumlah : 136, Amplitudo : 2-61 mm, Durasi : 12.4-157.4 detik)
■ Hembusan
(Jumlah : 11, Amplitudo : 4-30 mm, Durasi : 11.24-62.5 detik)
■ Low Frekuensi
(Jumlah : 1, Amplitudo : 4 mm, Durasi : 15.6 detik)
■ Hybrid/Fase Banyak
(Jumlah : 2, Amplitudo : 3-5 mm, S-P : 0.4 detik, Durasi : 8.5-9.4 detik)
■ Vulkanik Dangkal
(Jumlah : 1, Amplitudo : 60 mm, Durasi : 18.24 detik)

KETERANGAN LAIN
Nihil

KESIMPULAN
Tingkat Aktivitas G. Merapi Level II (Waspada)

REKOMENDASI
1.Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

  1. Radius 3 km dari puncak G.Merapi agar dikosongkan dari aktifitas penduduk.
  2. Masyarakat yg tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktifitas G. Merapi.
  3. Jika terjadi perubahan aktifitas G.Merapi akan segera ditinjau kembali.
  4. Masyarakat agar tidak terpancing isu isu mengenai erupsi G.Merapi yg tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G.Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz.melalui Website www.merapi.bgl.esdm.go.id media sosial BPPTKG atau ke kantor BPPTKG Jalan Cendana no 15 Yogyakarta telepon (0274)514180-514192
  5. Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G.Merapi saat ini.

PENYUSUN LAPORAN
Ahmad Sopari
Lasiman

SUMBER DATA
KESDM, Badan Geologi, PVMBG
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)
https://magma.vsi.esdm.go.id/

PLT KALAK BPBD, bp. DODHY HERMANU ikut bersih sungai

Berkenan rawuh,PLT kalak bpbd klaten,pak dodhy hermanu,bersama kades gaden,trucuk.,dengan truk serbagunannya membantu menarik kayu kayu yang besar…

melanjutkan gotong royong penangangan tumpukan bambu dan kayu,di sungai dengkeng,dam jetho.alhamdulilah berkurang banyak tumpukannya,tinggal 35 persen.semoga cepet selesai dan berkurang banjirnya

Bapak sekda kabupaten klaten,pak Jaka Sawaldi,memimpin langsung apel rabu pagi

[07:42, 2/6/2019] Bapak sekda kabupaten klaten,pak Jaka Sawaldi,memimpin langsung apel rabu pagi pasca libur imlek dikantor BPBD Jalan andalas,klaten.Pak Sekda mewakili ibui Bupati Klaten menyampaikan arahan dan petunjuk kepada PLT Kalak Bpbd klaten yang telah ditunjuk,Yakni ,pak Dodhy Hermanu,mengisi jabatan yang kosong karena pak kalak yang lama,pak Bambang memasuki masa pensiun.
Dalam pesannya,pak sekda menghimbau agara semua pejabat dan staff untuk dapat melaksanakan tugas dengan semngat dan sungguh sungguh.beliau juga berharap,agar semua pejabat dan staff untuo tetap kompak mendukung plt yang ditunjuk ibu bupati.Pak sekda juga berpesan agar BPBD Klaten lebih peka dan peduli kepada relawan dan komunitas.
Salam tangguh

AKHIR MASA BHAKTI KALAK BPBD KABUPATEN LATEN

  • Sore kemarin 31 Januari 2019,kalak bpbd klaten,pak Bambang Giyanto,memimpin apel sore,di hari terakhir beliau bertugas sebelum pensiun.Dalam pesannya,beliau memberikan semngat kepada asn bpbd,thl,pusdalops,trc,untuk tangguh.dan yang luar biasa,relawannya tidak pensiun…masih tetap relawan.terus mengurai derita sesama.sehat selalu komandan.

Perigatan Dini Cuaca Jawa Tengah

Berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang – lebat dapat disertai petir dan angin kencang pada pukul 12.20 WIB di wilayah Temanggung, Purbalingga, Boyolali dan sekitarnya.

Dan dapat meluas ke wilayah Kendal – Batang selatan, Kab. Semarang, Magelang, Banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Karanganyar barat, Surakarta, Wonogiri dan sekitarnya.

Kondisi ini diprakirakan masih akan berlangsung hingga pukul 14.00 WIB.

Peringatan Dini Cuaca Provinsi Jawa Tengah
Tanggal 31 Januari 2019 Pukul 11.50 WIB

Prakirawan – BMKG Ahmad Yani Semarang
http://www.bmkg.go.id/peringatan-dini/?p=ba5t20190131